
Kehidupan di daerah perkotaan sering digambarkan dengan sikap individualisme dan tidak saling kenal sesame bahkan terhadap tetangga rumah. Imej semacam tidak benar seluruhnya dan tidak salah total. Faktanya, kehidupan masyarakat di satu komplek perumahan tertentu terlihat sepi dan minim interaksi sosial. Namun, di bagian komplek perumahan lain terlihat aktivitas sosial begitu marak. Kondisi komplek tersebut juga mempengaruhi interaksi masyarakatnya.
Komplek Ditjen Haji yang terletak di bilangan Legoso bisa dikategorikan sebagai wajah interaksi sosial yang masih terjaga. Tidak terlalu besar komplek ini, namun luas rumah di dalamnya cukup besar untuk wilayah di Ciputat yaitu berkisar 150-200 meter persegi. Latar belakang penghuninya juga sudah beragam. Komplek yang dulunya didedikasikan untuk pegawai haji di lingkungan Kementerian Agama, kini telah dihuni berbagai latar belakang profesi.
Kegiatan sosial dan keagamaan di komplek ini relative banyak. Kehadiran penduduk dalam acara tersebut juga antusias. Meskipun setiap kegiatan mendapatkan respon yang berbeda. Ada kegiatan yang diminati banyak orang dan sebagian kegiatan kurang diminati. Hal ini wajar karena setiap orang memiliki keluangan waktu sendiri dan harapan yang diinginkan.
Di antara penduduk saling mengenal. Meskipun sebagiannya juga sudah tidak saling mengenal. Setidaknya, petugas keamanan hafal nama penghuni dan alamat rumahnya sehingga ketika ada seseorang mencari alamat maka dengan mudah ditemukan oleh petugas keamanan.
Masjid Jami’ Al-Mabrur yang berada di komplek tersebut menjadi salah satu tempat bertemunya warga untuk kegiatan ibadah dan lainnya. Kegiatan ibadah rutin atau non rutin menjadi sarana berkumpul dan bersilaturahmi. Kegiatan sosial juga sering diadakan di Masjid ini dengan tujuan mendukung pemberdayaan dan penguatan masyarakat. Masjid ini terbuka untuk jamaah baik dari komplek atau luar komplek tanpa ada pembedaan. Diharapkan Masjid Al-Mabrur menjadi penyokong dan penguat kohesi sosial masyarakat.

